Pria Tampan Ini Tak Bisa Menikah Akibat 'Goyangan' Janda, Ternyata Karena....

Pria Tampan Ini Tak Bisa Menikah Akibat 'Goyangan' Janda, Ternyata Karena....
Segera kuikuti dia hingga masuk ke sebuah toko. Di sana kami berkenalan dan dengan sopan ia meminta nomorku. Hari-hari berikutnya kami sering saling SMS dan telepon.
“Sebenarnya aku janda, usiaku 31 tahun,” katanya berterus terang. Aku yang lebih muda dua tahun dan masih perjaka, tak peduli dengan itu. Kecantikannya telah mengesampingkan segalanya.
Kami pun sering bertemu. Getar-getar cinta semakin menggelora, namun aku tak pernah bisa menyentuhnya. Itu yang membuatku semakin kagum. “Dia wanita terhormat,” gumamku.
Suatu hari, ia meminta tolong kepadaku. Ia mengeluarkan sebuah cek atas namaku senilai 10.000 riyal, tiket ke Kairo dan voucher menginap tiga hari di Hotel bintang lima Samir Amis.

“Pergilah kamu ke Kairo, setelah tiba di hotel hubungi nomor ini dan ia akan mengajakmu ke perusahaan. Kamu cukup tanda tangan mewakili aku dan nanti pakaian-pakaian internasional dari Paris akan dikirim kepadaku. Apakah kamu bersedia?”
“Pasti, sayang. Demi kamu pasti akan kulakukan,” aku segera menerima permintaan itu meskipun harus mengambil cuti dari kantor.
Tiba di Kairo, aku segera menuju hotel Samir Amis. Seteah rehat sejenak, kuhubungi nomor itu. Aku kaget bukan kepalang, ternyata yang mengangkat telepon adalah wanita pujaan hatiku.

Kamu kaget ya? Aku sengaja mengundangmu kemari untuk menjelaskan banyak hal. Datanglah ke kamar nomor 2.”
Sampai di kamar nomor 2. Ia telah menyambutku dengan pakaian menggoda. Mulanya kami hanya berbincang, hingga terjadilah perbuatan terkutuk itu. Aku berzina dengannya. Dan itu terulang beberapa kali selama kami di Kairo.
Setahun sudah aku menjalin hubungan dengannya. Hingga suatu hari, aku mengalami kecelakaan bersama saudaraku. Ia mengalami pendarahan hebat dan segera dimasukkan ke ruang operasi. Dokter memintaku yang kebetulan selamat dalam kecelakaan itu untuk donor darah.

Sesaat setelah melakukan pemeriksaan darahku, dokter datang dengan wajah lesu.
“Kenapa dengan saudara saya, Dok. Katakan, Dok”
“Engkau harus percaya dengan takdir Allah, Nak”
“Apakah saudara saya meninggal?”
“Tidak”
“Lalu kenapa?”
“Darahmu terkena virus HIV,” kata-kata itu terdengar bagaikan petir yang menyambar di siang hari. Saya

langsung pingsan.
Setelah sadar, tubuhku gemetar. Ya Allah… sejak kapan aku mengidap penyakit mematikan ini?
“Sebenarnya engkau belum terkena AIDS, tetapi darahmu mengandung HIV

Ya Allah… Allahul musta’an. Tiba-tiba terbayang semua dosa yang kulakukan. Aku terus menerus berdzikir dan berdoa.
Dua hari setelah insiden itu, saudaraku meninggal dunia. Aku lebih merasa bersalah lagi. Tidak bisa membantu transfusi darah, dan juga ingat dialah yang dulu menasehatiku agar menjauhi wanita tersebut.
“Kamu di mana sayang? Lama tidak bertemu,” wanita itu meneleponku sepekan setelah aku kehilangan saudaraku.
“Apa maumu?” jawabku dengan nada marah.
“Kamu kenapa?”
“Saudaraku meninggal dan aku sangat terpukul”

“Yang penting kau masih hidup. Kapan kita bisa bertemu?” ia bahkan tidak mendoakan saudaraku.
“Kita tidak akan pernah bertemu lagi”
“Kenapa?”
“Aku mencintaimu dan tak mau kau celaka?”
“Ada apa?”
“Aku terkena HIV
“Bagaimana kau tahu?”
“Saat saudaraku kecelakaan, aku diminta donor darah. Ternyata darahku mengandung HIV

Apakah kau pernah berhubungan dengan wanita lain selain diriku?”
“Tidak”


BACA HALAMAN SELANJUTNYA >>>

Halaman
1 2 3
X